Sunday, 28 October 2012

laporan praktikum senyawa kompleks

Laporan Praktikum Senyawa Kompleks

I.    Judul Percobaan                       :   
      Pembentukan Tahapan Senyawa Kompleks
II.   Tujuan Percobaan                    :   
      Memperkirakan  rumus molekul senyawa kompleks berdasarkan perubahan warna senyawa yang terbentuk.
III.  Tinjauan Pustaka :
                     Dalam ilmu kimia, kompleks atau senyawa koordinasi merujuk pada molekul atau dentitas yang terbentuk dari penggabungan ligan dan ion logam. Pembentukan senyawa kompleks memerlukan dua jenis spesi :
1.      Ion atau molekul yang sekurang – kurangnya mempunyai satu pasang elektron bebas yang memadai untuk membentuk ikatan kovalen koordinasi.
2.   Ion logam atau atom yang mempunyai daya – tarik memadai terhadap elektron untuk membentuk ikatan kovalen koordinasi dengan gugus yang diikatnya.


               Ion logam atau atom dalam senyawa kompleks dinamakan ion logam pusat atau atom pusat, gugus yang diikat dinamakan ligan. Ligan dapat berupa ion atau molekul netral. Dalam ligan, atom yang menempel langsung pada logam melalui ikatan kovalen koordinasi dinamakan atom donor. Spesi koordinasi biasanya kumpulan atom dalam kurung persegi di dalam rumus meliputi ion logam pusat plus ligan yang terikat. Bilangan koordinasi logam pusat adalah jumlah pasangan elektron yang diterima atom pusat.

Ø  Bilangan koordinasi 2, salah satu bilangan koordinasi 2 yang terkenal adalah [Ag(NH3)2]+ , ion yang terbentuk bila senyawaan – senyawaan perak diolah dengan amonia.

Ø  Bilangan koordinasi 3, contoh bilangan koordinasi 3 sangat langka sekali. Satu – satunya yang sederhana untuk logam transisi yang dikenal orang adalah anion [HgI3]- .

Ø  Bilangan koordinasi 4, empat merupakan bilangan koordinasi yang umum dari beberapa atom dan ion logam transisi. Contohnya adalah Li(H2O)4+ , BeF4- ,BF44- , dan sebagainya.

Ø  Bilangan koordinasi 5, contoh bilangan koordinasi 5 adalah langka, tetapi tidak begitu luar biasa seperti bilangan koordinasi 3. Contoh sederhana adalah besi pentakarbonil (Fe(CO)5).
Ø  Bilangan koordinasi 6, bilangan koordinasi ini sangat penting karena hampir semua kation membentuk kompleks koordinasi 6.
Ø  Bilangan koordinasi yang lebih tinggi, bilangan koordinasi 7, 8, dan 9 tidak sering ditemui untuk beberapa kation yang lebih besar. Kompleks dengan bilangan koordinasi yang lebih tinggi, merupakan ciri khas dari segi stereokimia tidak kaku.

JENIS LIGAN :
              Kebanyakan ligan adalah anion atau molekul netral yang merupakan donor elektron. Beberapa yang umum adalah F- , Cl- , Br- , CN- , NH3 , H2O, CH3OH, dan OH- . Ligan seperti ini, bila menyumbangkan sepasang elektronnya kepada sebuah atom logam, disebut ligan monodentat (ligan bergigi satu).
              Ligan yang mengandung dua atau lebih atom, yang masing – masing secara serempak membentuk ikatan dua donor – elektron kepada ion logam yang sama, disebut ligan polidentat. Ligan ini juga disebut ligan khelat (dari bahasa Latin untuk kuku atau cakar). Karena ligan ini tampaknya mencengkeram kation di antara dua atau lebih atom donor. Yang termasuk ligan ini adalah ligan tri – , kuadri – , penta – , dan heksadentat. Contoh dari ligan tridentat adalah dietilen triamin.
              Selain itu ada pula yang disebut ligan bidentat, ligan ini yang paling terkenal di antara ligan polidentat. Ligan bidentat yang netral termasuk diantaranya anion diamin, diofsin, dieter, dan β-ketoenolat, dan yang paling terkenal adalah etilendiamin, difos, dan glim.

PEMBUATAN DAN REAKSI SENYAWA KOMPLEKS :
              Senyawa – senyawa kompleks dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
1.      Kompleks Werner, yaitu kompleks yang tidak berisi ikatan logam karbon dan kompleks sianida.
2.      Kompleks logam karbonil atau senyawa organometalik, yaitu kompleks yang paling sedikit berisi satu ikatan karbon.
              Senyawa – senyawa kompleks golongan (2) tidak mempunyai sifat garam seperti golongan (1) dan biasanya bersifat kovalen. Zat ini umumnya larut dalam pelarut – pelarut non – polar, mempunyai titik lebur dan titik didih rendah. Untuk membuat senyawa – senyawa kompleks, pertama harus diingat bahwa hasilnya harus cukup banyak, kemudian harus ada cara yang baik untuk mengisolasi hasil tersebut.
              Cara – cara isolasi untuk golongan (1) antara lain :
1.      Penguapan pelarut dan pendinginan larutan yang pekat dalam campuran pendingin es – garam. Kristalisasi dapat dipercepat dengan penambahan sedikit kristal senyawa yang bersangkutan dan dengan mengggores dinding bejana bagian dalam.
2.      Penambahan pelarut yang bercampur dengan pelarut semula, tetapi tidak melarutkan zat yang terlarut. Pendinginan, penambahan kristal zat terlarut dan penggoresan dinding bejana bagian dalam dapat mempercepat kristalisasi.
3.      Bila kompleksnya berupa kation ke dalam larutan dapat ditambahkan anion yang dapat menyebabkan terjadinya endapan. Demikian pula bila kompleksnya berupa anion, dapat ditambahkan ion logam yang menyebabkan terjadinya endapan.
              Senyawa – senyawa kompleks golongan (2) juga dapat diisolasikan dengan cara – cara di atas. Dapat pula diisolasikan dengan cara – cara destilasi, sublimasi, dan proses kromatografi.
1.      Kompleks Werner
a.      Reaksi substitusi dalam larutan air
         Cara ini merupakan cara yang terpenting, reaksinya terjadi antara larutan garam logam di dalam air dengan pereaksi koordinasi. Reaksi pembentukan kompleks tetraamine tembaga (II) dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :
[Cu(H2O)4]SO4 + NH3                                      [Cu(NH3)4]SO4 + 4H2O
                                                               Biru tua
                                                                              
                                                                             + C2H5OH
                                                                                                                        [Cu(NH3)4]SO4
                                                                                    Kristal

b.      Reaksi substitusi dalam larutan bukan air
         Penggunaan pelarut – pelarut bukan air tidak banyak dilakukan. Cara ini hanya dilakukan bila :
1.      Ion logam mempunyai afinitas besar terhadap air.
2.      Ligan yang dipakai tidak larut dalam air.
Ion – ion yang mempunyai afinitas besar terhadap air dan membentuk ikatan logam – oksigen yang kuat ialah Al3+ , Fe3+ , dan Cr3+ . Penambahan ligan yang bersifat basis tidak membentuk kompleks, tetapi endapan basa yang gelatinous. Dalam hal ini hidrat dari ion di atas bersifat sebagai asam protonik.
c.       Reaksi substitusi tanpa adanya pelarut
         Reaksi antara garam anhidrous dan suatu ligan cair dapat dipakai untuk membuat kompleks logam. Dalam banyak hal, ligan cair yang jumlahnya berlebihan dapat berfungsi sebagai pelarut untuk campuran reaksi.
         [Ni(NH3)6]Cl2 dapat dibuat dengan mereaksikan NiCl2 dengan NH3 cair dan menguapkan sisa NH3, yang mempunyai titik didih rendah  (-33◦C).
         NiCl2    +  NH3                                [Ni(NH3)6]Cl2
              Kuning                         violet

d.      Reaksi oksidasi – reduksi
         Senyawa – senyawa kobalt (III) kompleks selalu dibuat dari garam kobalt (II), sebab bilangan oksidasi kobalt biasanya (II). Kobalt (III) kompleks stabil bila mempunyai gugus koordinasi tertentu. Reaksi kobalt (II) dengan ligan cepat dan ini kemudian dapat dibuat kobalt (III) kompleks dengan jalan oksidasi. Pembentukan kompleks [Co(NH3)6] Cl3 terjadi secara bertahap.
[Co(H2O)6] Cl2 + 6NH3                  [Co(NH3)6] Cl2 + 6H2O
[Co(NH3)6] Cl2 + 4NH3Cl + O2               4[Co(NH3)6] Cl3 + 4NH3 + 2H2O
2.   Kompleks Metal – karbonil dan Organometalik
Senyawa golongan ini yang pertama dikenal adalah biru Prusia : Fe [Fe2(CN)6]3 . senyawa karbonil Ni(CO)4 dan Fe(CO)3 dibuat oleh Mond (Prancis) pada tahun 1890. Sejak itu banyak senyawa – senyawa jenis ini telah dibuat, termasuk senyawa – senyawa golongan ini ialah :
1.      Senyawa – senyawa berisi alkil seperti : [(CO)5MnCH3].
2.      Senyawa – senyawa berisi ikatan aril seperti : [P { (C2H5)3 }2 Pt(C6H5)2].
3.      Senyawa – senyawa berisi ikatan antara logam – karbon.
4.      Senyawa – senyawa olefin.
Logam dalam senyawa ini biasanya mempunyai bilangan oksidasi sangat rendah. Pembuatannya biasanya dilakukan dalam pelarut bukan air seperti : diglime [(CH3OCH2CH2)2O], tetrahidrofuran dan dietil eter.
a.      Pembuatan Metal Karbonil
           Mond mula – mula membuat zat ini dari gas CO dengan logam yang halus :
Ni   +  4CO              Ni(CO)4
Tidak berwarna
2Co  +  8CO                 Co2(CO)8
Dari nomor atom efektif dapat dijelaskan bahwa :
1.      Atom – atom dengan nomor atom genap membentuk karbonil – karbonil monomer seperti : Cr(CO)6 , Fe(CO)5 , Ni(CO)4 .
2.      Atom – atom dengan nomor atom ganjil membentuk karbonil – karbonil dimer, seperti : Mn2(CO)10 , Co2(CO)8 .
b. Pembuatan Senyawa Logam Olefin
                 pada tahun   1827 W.C. Zeise, ahli farmasi dari spanyol mendapatkan bahwa reaksi C2H4 dengan [PtCl4]2- dalam HCl encer menghasilkan senyawa yang berisi platina dan etilen dengan rumus :
      [PtCl4]2-  +  C2H4                                  [PtCl3C2H4]-   +  Cl-
                                                   Orange
      2 [PtCl4]2-  +  2C2H4                              [ Pt2Cl4 (C2H4)2]   +  4Cl-
                                                           Rose
c. Pembuatan Senyawa Senwich
                 sejak tahun 1950 telah banyak dibuat senyawa – senyawa logam transisi, dimana atom logam terdapat sebagai “daging” di antara dua senyawa organik yang datar, seakan – akan berupa “roti slice” dalam molekul yang berbentuk “sandwich”. Senyawa yang paling stabil berisi anion siklopentadien (C5H5).

WARNA SENYAWA KOMPLEKS :
     Hampi semua senyawa – senyawa kompleks mempunyai warna – warna tertentu, karena zat ini menyerap sinar di daerah tampak atau visible region. Sebab lebih lanjut ialah karena energi sinar di daerah tampak cocok untuk promosi elektron yang ada di orbital d, dari energi rendah ke energi tinggi. Besarnya energi untuk promosi, yaitu Δ, tergantung dari ion pusatnya dan tergantung dari jenis ligan. Karena itu, senyawa kompleks mempunyai warna berbeda – beda, misalnya [Ti(H2O)6]3+ berwarna ungu sedang [Cu(H2O)6]2+ berwarna biru muda. Untuk suatu ion pusat warnanya berbeda bila ligannya berbeda, misalnya [Cu(H2O)6]2+ berwarna biru muda, tetapi [Cu(NH3)4(H2O)]2+ berwarna biru tua.
Bila zat menyerap warna atau panjang gelombang tertentu dari sinar tampak, zat tersebut akan meneruskan warna komplemennya,  yang nampak pada mata kita sebagai warna. Bila zat menyerap semua warna dari sinar tampak, zat tersebut berwarna hitam. Sebaliknya bila zat sama sekali tidak menyerap warna dari sinar tampak, zat tersebut berwarna putih.
Untuk suatu ion pusat, penggantian ligan dari ligan dengan medan lemah ke ligan dengan medan kuat, akan memberikan Δ yang semakin besar. Sinar yang diserap panjang gelombangnya semakin pendek.
Di bawah ini dituliskan deret spektrokimia, yaitu daftar – daftar ligan yang disusun berdasarkan perbedaan energi Δ yang dihasilkan dari Δ yang kecil ke yang besar.
I< Br < S2– < SCN < Cl< NO3– < N3– < F  < OH  < C2O42– < H2O < NCS < CH3CN < py < NH3 < en < 2,2’-bipiridina < phen < NO2– < PPh3 < CN < CO
GEOMETRI SENYAWA KOMPLEKS :
Geometri senyawa kompleks bergantung pada bilangan koordinasi (jumlah ikatan koordinasi) dan tipe hibridisasi ion pusatnya. Senyawa kompleks dengan bilangan koordinasi 2 berbentuk linier, sedangkan yang mempunyai bilangan koordinasi 6 berbentuk oktahedron. Adapun senyawa kompleks yang mempunyai bilangan koordinasi 4 dapat berbentuk tetrahedron dapat pula berbentuk segiempat planar. Yang berbentuk tetrahedron mengalami hibridisasi sp3 , sedangkan yang berbentuk segiempat planar mengalami hibridisasi dsp2 .
Ikatan hibrida
Bentuk Geometri
Contoh
d2sp3
Oktahedral
[Fe(CN)6]3-
sp3d2
Oktahedral
[FeF6]3-
sp3
Tetrahedral
[Zn(NH3)4]2+
dsp3
Segiempat Planar
[Ni(CN)6]2-


KEGUNAAN SENYAWA KOMPLEKS :
Banyak senyawa kompleks yang digunakan didasarkan pada warna, kelarutan atau perubahan perilaku kimiawi dari ion logam dan ligan ketika senyawa tersebut membentuk kompleks.
Klorofil yang merupakan pigmen hijau di dalam tanaman adalah senyawa kompleks yang mengandung magnesium. Tanaman berwarna hijau disebabkan klorofil menyerap cahaya kuning dan memantulkan warna komplemennya yaitu hijau. Energi yang diserap dari matahari digunakan untuk melakukan fotosintesis. Senyawa kompleks yang dipakai sebagai zat warna lain misalnya kompleks tembaga (II) Ftalosianin biru. Kompleks ini digunakan sebagai pigmen atau pencelup kain dalam industri tekstil pada tinta biru, blue jeans, dan cat biru tertentu.
Zat pengompleks tertentu sering digunakan untuk melunakkan air sadah sebab zat tersebut dapat mengikat ion – ion seperti Ca2+ , Mg2+ , dan Fe2+ yang menjadikan air bersifat sadah. Zat pengompleks yang dapat mengikat ion – ion logam juga digunakan sebagai obat – obatan. Ligan polidentat seperti enterobactin yang diisolasi dari bakteri tertentu digunakan unttuk mengendalikan kadar besi dalam darah pasien yang memiliki penyakit seperti anemia Cooley. Obat anti kanker plationol seperti cis – [Pt(NH3)2Cl2] adalah senyawa kompleks platinum (II), merupakan zat aktif biologi dan dipercaya dapat memutuskan untai DNA, sehingga suka campur tangan pada pembelahan sel.

IV.  Alat dan Bahan                         :
A.     Alat
                    Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1.      Tabung reaksi
2.      Penangas air dan hotplate
3.      Gelas ukur 10 mL
4.      Pipet tetes
B.   Bahan
              Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1.      Larutan NiCl2.6H2O 0,1 M
2.      Larutan Amonia (NH3)
3.      Air




V.   Prosedur Percobaan                :
1.      Memasukkan 2 mL larutan NiCl2.6H2O 0,1 M ke dalam tabung reaksi. Kemudian mencatat warna larutan yang ada.
2.      Secara perlahan memasukkan satu  tetes larutan amonia ke dalam tabung reaksi (jangan mengenai dinding tabung reaksi) lalu mengguncang tabung secara perlahan dan hati – hati, kemudian mengamati apa yang terjadi.
3.      Melanjutkan penambahan larutan amonia tetes yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya dan setiap penambahan tetesan amonia ini tabung reaksi diguncang perlahan dan mengamati apa yang terjadi
4.      Melakukan penambahan larutan amonia sampai tidak ada perubahan warna larutan dalam tabung reaksi.
5.      Memanaskan tabung reaksi setelah langkah 4 dalam penangas air yang sudah hampir mendidih selama 30 menit. Kemudian mencatat hasil pengamatan pada setiap 2 menit pengamatan.

VI.  Hasil Pengamatan       :
No.
Perlakuan
Hasil Pengamatan
1.





2.








3.








4.




5.

Memasukkan 2 mL larutan NiCl2.6H2O 0,1 M ke dalam tabung reaksi. Kemudian mencatat warna larutan yang ada.

Secara perlahan memasukkan satu  tetes larutan amonia ke dalam tabung reaksi (jangan mengenai dinding tabung reaksi) lalu mengguncang tabung secara perlahan dan hati – hati, kemudian mengamati apa yang terjadi.

Melanjutkan penambahan larutan amonia tetes yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya dan setiap penambahan tetesan amonia ini tabung reaksi diguncang perlahan dan mengamati apa yang terjadi.

Melakukan penambahan larutan amonia sampai tidak ada perubahan warna larutan dalam tabung reaksi.

Memanaskan tabung reaksi setelah langkah 4 dalam penangas air yang sudah hampir mendidih selama 30 menit. Kemudian mencatat hasil pengamatan pada setiap 2 menit pengamatan.


á  Warnanya hijau muda





á  1 – 5 tetes tidak terjadi perubahan warna, 5 – 10 tetes warna larutan sedikit memudar dan saat 15 – 20 tetes warna larutan juga sedikit memudar.




á  Pada penambahan 20 – 26 tetes warna larutan memudar dari warna hijau muda menjadi hijau pucat.










á  2 menit :
Terbentuk endapan yang naik ke permukaan.
á  4 menit :
Gelembung – gelembungnya mulai berkurang, endapan tetap.
á  6 menit :
Di sekitar tabung reaksi timbul gelembung dan endapan naik ke permukaan.
á  8 menit :
Endapannya sebagian turun sedangkan gelembungnya berkurang.
á  10 menit :
Warnanya semakin bening dan endapan berkurang.
á  12 menit :
Endapan yang ada di atas semakin berkurang, selain itu gelembung yang terdapat pada tabung reaksi makin banyak.
á  14 menit :
Gelembung gas sama seperti ketika 12 menit.
á  16 menit :
Warna larutan berubah menjadi biru muda.
á  18 menit – 24 menit :
Tidak terjadi perubahan
á  26 menit :
Endapannya semakin sedikit dan gelembungnya tidak ada.
á   28 menit – 30 menit :
Endapannya bening sekali, larutannya mulai bening.





VII.  Pembahasan Hasil Percobaan               :
   Percobaan ini dilakukan untuk memperkirakan  rumus molekul senyawa kompleks berdasarkan perubahan warna senyawa yang terbentuk. Langkah pertama ialah memasukkan 2 mL larutan NiCl2.6H2O 0,1 M ke dalam tabung reaksi. Warna dari larutan NiCl2.6H2O 0,1 M adalah  hijau muda. Kemudian  Secara perlahan memasukkan satu  tetes larutan amonia ke dalam tabung reaksi (jangan mengenai dinding tabung reaksi) lalu mengguncang tabung secara perlahan dan hati – hati. Langkah selanjutnya adalah melanjutkan penambahan larutan amonia tetes yang kedua, ketiga, keempat dan seterusnya dan setiap penambahan tetesan amonia ini tabung reaksi diguncang perlahan.
Setelah diamati ketika penambahan 1 – 5 tetes larutan amonia tidak terjadi perubahan warna, 5 – 10 tetes warna larutan sedikit memudar dan saat 15 – 20 tetes warna larutan juga sedikit memudar. Pada penambahan 20 – 26 tetes warna larutan memudar dari warna hijau muda menjadi hijau pucat. Perubahan warna setelah penambahan beberapa tetes larutan amonia (NH3), dikarenakan hadirnya ligan NH3 yang menyebabkan pemisahan (splitting) tingkat energi pada orbital – orbital yang ada pada senyawa NiCl2.6H2O. Sehingga sinar – sinar tampak mengeksitasi elektron dari orbital d energi rendah ke orbital d energi tinggi.
Penggantian ligan dari ligan dengan medan lemah ke ligan dengan medan kuat, akan memberikan Δ  (selisih tingkat energi antara orbital d energi rendah dengan orbital d energi tinggi) yang semakin besar. Hal ini mengakibatkan sinar yang diserap panjang gelombangnya semakin pendek, artinya warna komplemennya atau yang tampak oleh mata akan memudar atau bahkan berubah tergantung dari ligannya.  Ligan air (H2O) memiliki energi 40,85 kkal/mol yang lebih rendah daripada amonia (NH3) yaitu 46,87 kkal/mol. Hal ini disebabkan oleh ligan H2O bersifat sebagai ligan lemah. Ligan lemah dalam kompleks menyebabkan elektron memiliki spin tinggi pada tingkat energi eg . Sedangkan ligan amonia (NH3) bersifat sebagai ligan kuat. Amonia dalam kompleks menyebabkan elektron spin rendah karena elektron dapat ditempatkan pada arah energi orbital t2g sebagai elektron berpasangan. Untuk menghindari adanya gaya tolak menolak antara dua elektron dalam satu kamar maka diperlukan energi 10 Dq yang lebih besar. Tidak ada interaksi dengan tingkat energi eg sehingga jarak kedua energi tersebut lebih menjauh. Maka energi yang dimiliki seutuhnya berada pada tingkat energi t2g  sebagai energi 10 Dq.
Dengan demikian, ligan NH3 dipahami lebih kuat daripada ligan H2O, sebanding dengan energi 10 Dq yang dimilikinya, berbanding terbalik dengan panjang gelombang maksimum yang terabsorb. Penggantian ligan H2O  pada NiCl2 dengan ligan NH3 menyebabkan perubahan warna dari hijau muda menjadi hijau pucat. Sehingga dapat diperkirakan bahwa senyawa kompleks yang terbentuk adalah [Ni(NH3)6Cl2].  Langkah Selanjutnya melakukan penambahan larutan amonia sampai tidak ada perubahan warna larutan dalam tabung reaksi.
Setelah itu, memanaskan tabung reaksi dalam penangas air yang sudah hampir mendidih selama 30 menit. Pada saat pemanasan berlangsung selama 2 menit terbentuk endapan yang naik ke permukaan. 4 menit, gelembung – gelembungnya mulai berkurang, endapan tetap. 6 menit, di sekitar tabung reaksi timbul gelembung dan endapan naik ke permukaan. 8 menit, endapannya sebagian turun sedangkan gelembungnya berkurang. 10 menit , warnanya semakin bening dan endapan berkurang. 12 menit, endapan yang ada di atas semakin berkurang, selain itu gelembung yang terdapat pada tabung reaksi makin banyak. 14 menit, gelembung gas sama seperti ketika 12 menit. 16 menit, warna larutan berubah menjadi biru muda. 18 menit – 24 menit, tidak terjadi perubahan. 26 menit, endapannya semakin sedikit dan gelembungnya tidak ada. 28 menit – 30 menit, endapannya bening sekali, larutannya mulai bening.
Timbulnya endapan, gelembung gas bahkan warna yang berubah adalah bagian dari reaksi kembalinya ion kompleks yang terbentuk menjadi reaktan atau pereaksi. Hal ini dikarenakan reaksi kompleks merupakan reaksi kesetimbangan, dimana reaksi yang terjadi tidak pernah selesai. Sehingga, ketika senyawa kompleks yang terbentuk dipanaskan dalam penangas air maka reaktan atau pereaksinya akan terbentuk kembali.

VIII. Jawaban Pertanyaan              :
1.   Tulislah persamaan reaksi yang mungkin terjadi dalam semua percobaan yang anda lakukan.
      Jawab :
      Persamaan reaksi yang mungkin terjadi dalam semua percobaan adalah :
      NiCl2.6H2O + 6NH3                                          [ Ni(NH3)6Cl2 ] + 6H2O
      Reaksi di atas tidak berlangsung sekaligus tetapi bertahap, adapun tahapan yang terjadi adalah sebagai berikut :
      Tahap 1     : NiCl2.6H2O + NH3                                           [Ni(NH3)(H2O)5Cl2] + H2O          
      Tahap 2     : [Ni(NH3)(H2O)5Cl2] + NH3                                     [Ni(NH3)2(H2O)4Cl2] + H2O
      Tahap 3     : [Ni(NH3)2(H2O)4Cl2] + NH3                                  [Ni(NH3)3(H2O)3Cl2] + H2O
      Tahap 4     : [Ni(NH3)3(H2O)3Cl2] + NH3                                  [Ni(NH3)4(H2O)2Cl2] + H2O
      Tahap 5     : [Ni(NH3)4(H2O)2Cl2] + NH3                                  [Ni(NH3)5(H2O)Cl2] + H2O
      Tahap 6     : [Ni(NH3)5(H2O)Cl2] + NH3                                     [Ni(NH3)6Cl2] + H2O
      Jika keenam tahap tersebut dijumlahkan akan diperoleh persamaan reaksi :
NiCl2.6H2O + 6NH3                                           [ Ni(NH3)6Cl2 ] + 6H2O
2.   Dengan menganggap 1 tetes = 0,05 mL hitunglah massa maksimum dari senyawa yang dapat terbentuk dari penambahan 10 tetes amonia dalam percobaan !
      Jawab :
Diketahui :    1 tetes NH3                  = 0,05 mL
                     10 tetes NH3              = 10 x 0,05 mL = 0,5 mL
                     M NH3                                 = 0,1 M
                     M NiCl2.6H2O     = 0,1 M
                     V NiCl2.6H2O      = 2 mL
Ditanya    :    Massa dari senyawa kompleks yang terbentuk ?
Penyelesaian :
Ø  Mol(NH3) ­        =   M(NH3)  x V(NH3)
                     =   0,1 M x 0,5 mL
                     =   0,05 mmol

Ø  Mol(NiCl2.6H2O)     =      M(NiCl2.6H2O) x V(NiCl2.6H2O)
                                                   =      0,1 M x 2 mL
                          =      0,2 mmol
Reaksi kesetimbangan :
                              NiCl2.6H2O    +   6NH3                               [ Ni(NH3)6Cl2 ]    +  6H2O
Mula – mula :    0,2 mmol            0,05 mmol                                                      
Bereaksi         :    0,0083 mmol      0,05 mmol             0,0083 mmol   0,05 mmol                                                                                                     
Setimbang     :    0,1917 mmol                                    0,0083 mmol  0,05 mmol
Mr[ Ni(NH3)6Cl2 ]    =    { ArNi + () + () + ()  
                                             =    { }
                       =   
           =    231,71

Massa senyawa [ Ni(NH3)6Cl2 ] yang terbentuk adalah :
 [ Ni(NH3)6Cl2 ]        = [ Ni(NH3)6Cl2 ] + [ Ni(NH3)6Cl2 ]
                             =
                             =
                             =

3.   Mengapa warna larutan dalam tabung berubah setelah tabung dipanaskan dalam penangas air ?
      Jawab :
                       Warna larutan dalam tabung berubah setelah tabung dipanaskan dalam penangas air karena ketika dipanaskan dalam larutan terjadi proses kembalinya ion kompleks yang terbentuk menjadi reaktan atau pereaksi karena reaksi yang terjadi merupakan reaksi kesetimbangan.




IX.  A. Kesimpulan      :
                 Dari percobaan pembentukan tahapan senyawa kompleks dapat disimpulkan bahwa :
1.      Senyawa kompleks adalah senyawa yang terdiri dari suatu ion atau atom pusat (biasanya ion logam transisi) dan beberapa anion atau molekul netral yang terikat langsung pada ion atau atom pusat melalui ikatan kovalen koordinasi.
2.      Hampir semua senyawa – senyawa kompleks mempunyai warna – warna tertentu, karena zat ini menyerap sinar di daerah tampak atau visible region. Warna yang tampak ialah warna yang dipantulkan atau perpaduan dari warna – warna yang dipantulkan. Dengan begitu, kita dapat memperkirakan  rumus molekul senyawa kompleks berdasarkan perubahan            warna senyawa yang terbentuk.
3.      Reaksi pada senyawa kompleks merupakan reaksi kesetimbangan, sehingga reaksinya tidak akan pernah selesai akibatnya jika kita memanaskan senyawa kompleks yang terbentuk, hal ini akan membentuk reaktan atau pereaksinya kembali.
4.      Banyak senyawa kompleks yang digunakan didasarkan pada warna, kelarutan atau perubahan perilaku kimiawi dari ion logam dan ligan ketika senyawa tersebut membentuk kompleks. Misalnya, tembaga (II) Ftalosianin biru. Kompleks ini digunakan sebagai pencelup kain dalam industri tekstil.

B.      Saran  :
Dalam melakukan percobaan pembentukan tahapan senyawa kompleks praktikan sebaiknya benar – benar mengamati perubahan – perubahan yang terjadi. Sehingga praktikan dapat memperkirakan rumus senyawa kompleks yang terbentuk.

X.   Daftar Pustaka     :
1.     Cotton dan Wilkinson. Kimia Anorganik Dasar. Edisi Pertama. Universitas            Indonesia Press: Jakarta 2009. Bab I. Halaman 144.
2.     Day, M. Clyde dan Jr. Joel Selbin. Kimia Anorganik Teori. Edisi Pertama.  Gadjah Mada University Press : Yogyakarta. 1993. Bab 10.Halaman 543.
3.     Petrucci, H. Ralph dan Suminar. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Edisi keempat. Erlangga : Jakarta. 1987. Bab 24. Halaman       180.
4.     Pudjaatmaja, Hadyana Aloysius. Kimia Untuk Universitas. Edisi Keenam.  Erlangga : Jakarta. Bab 22. 1996. Halaman 204.
5.     Sukardjo. Kimia Koordinasi. Edisi Revisi (Ketiga). Rineka Cipta : Jakarta.   1992.   Bab VI. Halaman 134.
6.     Sunarya, Yayan. Kimia Dasar Prinsip – Prinsip Kimia Terkini. Edisi Perdana. Angkasa : Bandung. Bab 8. Halaman 353.
7.     vharheeda. Kekuatan ligan air dan amonia. Vharheeda.blogspot.  com/2009/04/keku… . 13 juni 2011.







LAMPIRAN 1

Gambar 1. tabung reaksi

Gambar 2. Larutan NH3 dan gelas ukur

Gambar 3. Larutan NiCl2.6H2O, gelas ukur dan pipet.

Gambar 4. Proses pemanasan air sampai hampir mendidih

Gambar 5. Proses pemanasan tabung reaksi dalam penangas air


No comments:

Post a Comment