Tuesday, 30 October 2012

Laporan Percobaan Analisis Kesadahan Air

ANALISIS KESADAHAN AIR
A.    Tujuan Percobaan
1.      Mempelajari penyebab dan pengaruh air sadah.
2.      Menentukan kesadahan sampel air.

B.     Dasar Teori
B.1 Air Sadah: Air yang mengandung ion Ca2+ dan atau ion Mg2+. Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah atau air keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Selain ion kalsium dan magnesium, penyebab kesadahan juga bisa merupakan ion logam lain maupun garam-garam bikarbonat dan sulfat. Metode paling sederhana untuk menentukan kesadahan air adalah dengan sabun. Dalam air lunak, sabun akan menghasilkan busa yang banyak. Pada air sadah, sabun tidak akan menghasilkan busa atau menghasilkan sedikit sekali busa. Cara yang lebih kompleks adalah melalui titrasi. Kesadahan air total dinyatakan dalam satuan ppm berat per volume (w/v) dari CaCO3.
Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum, namun dapat menyebabkan beberapa masalah. Air sadah dapat menyebabkan pengendapan mineral, yang menyumbat saluran pipa dan keran. Air sadah juga menyebabkan pemborosan sabun di rumah tangga, dan air sadah yang bercampur sabun dapat membentuk gumpalan scum yang sukar dihilangkan. Dalam industri, kesadahan air yang digunakan diawasi dengan ketat untuk mencegah kerugian. Untuk menghilangkan kesadahan biasanya digunakan berbagai zat kimia, ataupun dengan menggunakan resin penukar ion. Air sadah digolongkan menjadi 2 jenis berdasarkan jenis anion yang iikat oleh kation (Ca2+, Mg2+). Yaitu:
a. Air sadah sementara
Mengandung garam hidrokarbonat seperti Ca(HCO3)2 dan atau Mg(HCO3)2.
1. Air sadah sementara dapat dihilangkan kesadahannya dengan cara memanaskan air tersebut sehingga garam karbonatnya mengendap, reaksinya:
Ca(HCO3)2 (aq) CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)
Mg (HCO3)2 (aq) MgCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)
2. Selain dengan memanaskan air, sadah sementara juga dapat dihilangkan kesadahannya dengan mereaksikan larutan yang mengandung Ca(HCO3)2 atau Mg (HCO3)2 dengan kapur (Ca(OH)2):
Ca(HCO3)2 (aq) + Ca(OH)2 (aq) –> 2CaCO3 (s) + 2H2O (l)

b. Air sadah tetap
Mengandung garam sulfat (CaSO4 atau MgSO4) terkadang juga mengandung garam klorida (CaCl2 atau MgCl2). Air sadah tetap dapat dihilangkan kesadahannya menggunakan cara:
1.               Mereaksikan dengan soda Na2CO3 dan kapur Ca(OH)2, supaya terbentuk endapan garam karbonat dan atau hidroksida:
CaSO4 (aq) + Na2CO3 (aq) –> CaCO3 (s) +Na2SO4 (aq)
2.               Proses Zeolit Dengan natrium zeolit (suatu silikat) maka kedudukan akan digantikan ion kalsium dan ion magnesium atau kalsium zeolit.

B.2 Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion), Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi–reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi. Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan salah satu jenis asam amina polikarboksilat.
B.3  EBT dan EDTA
B.3.1 Eriochrome Black T (EBT) adalah indikator kompleksometri yang merupakan bagian dari titrasi pengompleksian contohnya proses determinasi kesadahan air. Di dalamnya bentuk protonated Eriochrome Black T berwarna biru. Lalu berubah menjadi merah ketika membentuk komplek dengan kalsium, magnesium atau ion logam lain. Nama lain dari Eriochrome Black T adalah,Solochrome Black T atau EBT (Anonima,2010).
Suatu kelemahan Eriochrome Black T adalah larutannya tidak stabil. Bila disimpan akan terjadi penguraian secara lambat,sehingga setelah jangka waktu tertentu indikator tidak berfungsi lagi. Sebagai gantinya dapat diganti dengan indikator Calmagite.Indikator ini stabil dan dalam kebanyakan sifatnya sama dengan Erio T (Harjadi,1993).
B.3.2 EDTA adalah singkatan dari Ethylene Diamine Tetra Acid, yaitu asam amino yang dibentuk dari protein makanan. Zat ini sangat kuat menarik ion logam berat (termasuk kalsium) dalam jaringan tubuh dan melarutkannya, untuk kemudian dibuang melalui urine. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2-diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul.
C.  Metode Percobaan
A. Alat dan Bahan:
A.1 Alat
1.      Sebuah Gelas Piala berukuran 250 ml
2.      Tiga buah erlenmeyer berukuran 125 ml
3.      Sebuah pipet gondok berukuran 20 ml
4.       Sebuah pipet gondok berukuran 1 ml
5.      Sebuah corong
6.      Sebuah buret berukuran 50 ml
7.      Sebuah pipet pump berukuran 25 ml
8.      Dua buah pipet tetes
A.2 Bahan
1.    Larutan Na2H2Y.2H2O atau larutan Na2EDTA
2.    Larutan standar Ca2+ 0.0005 M
3.    Larutan buffer pH 10,0
4.    Sampel air (Akuades)
5.     Indikator EBT

B.     Prosedur  Kerja
B.1. Prosedur kerja standarisasi 0,01 m larutan etilaniamin tetraasetat:
1.      Buret disiapkan untuk dilakukan titrasi, kemudian buret dibilas menggunakan Na2EDTA dan diisi dengan Na2EDTA hingga skala 0
2.      Digunakan pipet gondok untuk mengambil 20 ml larutan standar Ca2+  dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 125 ml, kemudian ditambahkan 1 ml larutan buffer pH 10.0dan 2 tetes indikator EBT. Disiapkan 3 erlenmeyer untuk 3 sampel larutan.
3.      Larutan di dalam erlenmeyer dititrasi menggunakan Na2EDTA secara perlahan hingga mendekati titik terakhir kemudian diturunkan laju penambahan titran pada saat terjadi perubahan warna menjadi biru langit secara permanen
4.      Dicatat volume titran yang digunakan
5.      Titrasi pengambilan standart Ca2+ diulangi untuk larutan sampel yang kedua dan ketiga

B.2. Prosedur kerja analisis sampel air
1.      Buret disiapkan untuk dilakukan titrasi, kemudian buret dibilas menggunakan Na2EDTA dan diisi dengan Na2EDTA hingga skala 0
2.      Digunakan pipet gondok untuk mengambil 20 ml sampel air  dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer 125 ml, kemudian ditambahkan 1 ml larutan buffer pH 10.0dan 2 tetes indikator EBT. Disiapkan 3 erlenmeyer untuk 3 sampel larutan.
3.      Larutan di dalam erlenmeyer dititrasi menggunakan Na2EDTA secara perlahan hingga mendekati titik terakhir kemudian diturunkan laju penambahan titran pada saat terjadi perubahan warna menjadi biru langit secara permanen
4.      Dicatat volume titran yang digunakan
5.      Titrasi pengambilan sampel air diulangi untuk larutan sampel yang kedua dan ketiga



C.    Skema alat:
keterangan:
1.statif
2.klem
3.buret
4.erlenmeyer



Sumber gambar:

D.    Hasi Percobaan dan hasil perhitungan
D.1 Hasil Percobaaan Standarisasi  Larutan Na2 EDTA
No.
Uraian
Perc. 1
Perc. 2
Perc. 3
1
Volume larutan standar Ca2+ (ml)
20
20
20
2
Konsentrasi larutan standar Ca2+ (mol/L) (Molar)
0,0005
0,0005
0,0005
3
Mol Ca2+ = mol Na2H2Y (mol)
10-5
10-5
10-5
4
Pembacaan buret, akhir (ml)
48
30,.5
27,5
5
Pembacaan buret, awal (ml)
50
33
30,5
6
Volume titran Na2H2Y (ml)
2
2,5
3
7
Molaritas larutan Na2H2Y (mol/L)
5 . 10-3
4. 10-3
3,33. 10-3
8
Molaritas rerata larutan Na2H2Y (mol/L)
4,11. 10-3
4,11. 10-3
4,11. 10-3

D.2 Hasil Percobaan Analis Sampel Air
No.
Uraian
Perc. 1
Perc. 2
Perc. 3
1
Volume sampel air (ml)
20
20
20
2
Pembacaan buret, akhir (ml)
44,8
39,3
33, 8
3
Pembacaan buret, awal (ml)
50
44,8
39,3
4
Volume titran Na2H2Y (ml)
5,2
5,5
5,5
5
Mol ion sadah, Ca2+ = mol Na2H2Y (mol)
2,14 . 10-5
2,26 . 10-5
2,26 . 10-5
6
Massa CaCO3 ekuivalen (gram)
2,14 . 10-3
2,26 . 10-3
2,26 . 10-3
7
ppm CaCO3 (mg CaCO3 / L sampel)
107
113
113
8
ppm CaCO3 rerata (mg/ L)
111
111
111


D.3 Hasil Perhitungan Standarisasi  Larutan Na2 EDTA
PERCOBAAN
Ca2+
Na EDTA
M
M
V (L)
M
V (L)
RATA - RATA
I
0,0005
2.10-2
5.10-3
2.10-3
4,11. 10-3
II
0,0005
2.10-2
4. 10-3
2,5.10-3
III
0,0005
2.10-2
3.33 10-3
3.10-3

D.4 Hasil Perhitungan Analisis Sampel Air ( Kandungan Ca2+ Dalam Air )
Diketahui: Mr CaCO3 = 100 gram / mol
PERCOBAAN
Na2EDTA
SAMPEL AIR
Molaritas Ion Sadah (mol)
MASSA CaCO3 (gram)
PPM CaCO3 (mg/L)
M rata-rata
V( ml )
V( liter (L))
I
4,11. 10-3
5,2
2.10-2
2,14 . 10-5
2,14 . 10-3
107
II
4,11. 10-3
5,5
2.10-2
2,26 . 10-5
2,26 . 10-3
113
III
4,11. 10-3
5,5
2.10-2
2,26 . 10-5
2,26 . 10-3
113
PPM RATA-RATA
111 mg/L


E.     Pembahasan
a.    Perlakuan
Percobaan ini dilakukan dengan tujuan agar kita dapat menetukan kesadahan suatu sampel air. Yang menyebabkan kesadahan suatu air adalah karena adanya garam kalsium dan magnesium serta besi pada suatu larutan.
Pada percobaan pertama, melakukan standarisasi larutan Na2H2Y2 dengan menggunkan larutan standar Ca2+. Yang dimaksud dengan larutan standar adalah larutan yang telah diketahui nilai molaritasnya sehingga dapat menstandarisasi larutan yang belum diketahui nilai molaritasnya. Karena bentuk awal dari larutan standar Ca2+ berbentuk butiran, sehingga dapat dihitung molaritasnya dengan menggunakan konsep molaritas. Dalam percobaan kali ini mengunakan metode titrasi, yaitu cara penetuan konsentrasi suatu larurtan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya dan mengukur volumenya secara pasti. Titran yang digunakan adalah Na2EDTA dan akan berdisiosasi menjadi ion Na+ dan H2Y2-. Pada kali ini akan dilakukan 3 kali percobaan.
Pada percobaan ini, Ca2+ memiliki molaritas sebesar 0,005M dan volume larutan 0,02 liter. Molaritas dan volume larutan telah diketahui karena larutan ini merupakan larutan standar. Pada percobaan ini, digunakan indikator, yaitu indikator EBT. Indikator yang mampu berikatan secara kompleks dengan ion Ca2+ dan Mg2+. Indikator warna yang digunakan adalah perubahan warna ungu menjadi warna biru cerah.

b.   Fungsi tiap-tiap penambahan:

Titrasi Na2EDTA menggunakan indikator EBT dan penyangga dengan pH 10. Tujuan awalnya untuk memelihara agar pH tetap yang disebabkan ketika ion hidrogen lepas pada proses titrasi yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan pH dalam titrasi kompleksiometri. Kedua mencegah terbentunya endapan logam hidroksida, dengan demikian,penyangga itu dapat bertindak sebagai zat pembentuk kompleks tambahan

c.    Reaksi dan Fenomena:

Jika  titran Na2EDTA ditambahkan pada analitik, maka akan terjadi reaksi pembentukan kompleks dengan ion Ca2+ seperti berikut:

Ca2+ (aq) + H2Y2- (aq) –>  (CaY)2- (aq) + 2H+ (aq)

Indikator EBT berwarna biru langit dalam larutan tetapi membentuk kompleks merah anggur (Ca – EBT)2+ (aq)

Ca2+ (aq) + EBT (aq) –> (Ca – EBT)2+ (aq)

Sebelum titran H2Y2- ditambahkan untuk analisa, analit berwarna merah anggur karena ion kompleks (Ca – EBT)2+ (aq). Jika H2Y2- mengkompleks semua Ca2+ bebas dari sampel air maka kompleks merah anggur (Ca – EBT)2+ terdisosiasi dari warna merah anggur berubah menjadi biru langit dari indikator EBT. Dan titik akhir dicapai, semua ion sadah telah terkompleksikan dengan H2Y2-

(Ca – EBT)2+ (aq) + H2Y2- (aq) –> CaY(aq)  + 2H+ (aq) + EBT(aq)

Jika  titran H2Y2- ditambahkan pada analit, maka akan terjadi reaksi pembentukan kompleks dengan ion Ca2+  dan Mg2+seperti berikut:

Ca2+ (aq) + H2Y2- (aq) –> (CaY)2- (aq) + 2H+ (aq)
Mg2+ (aq) + H2Y2- (aq) –> (MgY)2- (aq) + 2H+ (aq)

Indikator EBT berwarna biru langit dalam larutan tetapi membentuk kompleks merah anggur (Mg – EBT)2+ (aq)

Mg 2+ (aq) + EBT (aq) –> (Mg – EBT)2+ (aq)

Jika H2Y2-  mengkompleks semua Ca2+  dan Mg2+  bebas dari sampel air maka kompleks merah anggur (Ca – EBT)2+ terdisosiasi dari warna merah anggur berubah menjadi biru langit dari indikator EBT. Dan titik akhir dicapai, semua ion sadah telah terkompleksikan dengan H2Y2-
(Mg – EBT)2+ (aq) + H2Y2- (aq) –> MgY(aq)  + 2H+ (aq) + EBT(aq)

d.      Toleransi hasil dengan standar ion sadah yang diizinkan

Dari hasil data yang telah diperoleh, terdapat hasil yang berbeda-beda. Pada percobaan pertama terdapat volume 2 x 10-3 L dengan molaritas sebesar 5 x.10-3 M, sedangkan pada percobaan kedua, terdapat volume sebesar 2,5 x 10-3 L dengan molaritas sebesar 4 x 10-3 M, dan pada percobaan terakhir mengenai standarisasi larutan Na2EDTA ini didapat volume 3 x 10-3 L sehingga menghasilkan konsentrasi sebesar  3,33 x 10-3 M. Dapat kita lihat, bahwa penentuan momentum pada saat terjadinya perubahan warna menjadi biru cerah adalah faktor yang sangat penting. Beberapa faktor yang mempengaruhi perbedaan dalam menetukan konsentrasi standar pada larutan Na2EDTA, terutama saat melakukan proses titrasi larutan, seperti :

v Dalam prosedur bekerja, terjadi kekurang telitian dalam proses pengukuran, penimbangan, serta dalam proses pengambilan larutan menggunakan pipet memberikan sedikit pengaruh terhadap volume yang diukur.
v Pembacaan buret tidak konstan dan buret yang bocor mempengaruhi volume Na2EDTA yang dititrasi sehingga membuat konsentrasi dari Na2EDTA semakin besar.
v Di dalam prosedur, proses titrasi dilakukan secara perlahan-lahan, namun dalam pelaksaannya tidak dilakukan secara perlahan, sehingga pengukuran volume Na2EDTA saat terjadi perubahan warna indikator tidak akurat. Karena semakin banyak larutan yang dititrasi oleh larutan ini, maka semakin besar pula molaritasnya.
v Penginterpretasian perubahan warna setiap individu berbeda-beda. Momentum terjadinya perubahan warna pun berbeda-beda, sehingga terjadi kekurang telitian dalam melihat warna yang menjadi biru.

            Dalam praktikum kali ini, dilakukan beberapa kali percobaan. Dari percobaan tersebut menghasilkan data yang berbeda-beda, namun percobaan tersebut dilakukan dengan prosedur yang sama, sehingga untuk menentukan besarnya konsentrasi larutan Na2EDTA dapat di ambil nilai rata-ratanya dengan menggunakan rumus M1 + M2 + M3, konsentrasi standar larutan Na2EDTA sebesar 4,11 x 10-3 M.                            3                                 
Konsentrasi Na2EDTA inilah yang akan kita pergunakan dari hasil standarisasi menggunakan larutan Ca2+. Dalam perhitungan mengenai titrasi ini, dalam menentukan konsentrasinya digunakan rumus sbb :
MCa2+ x VCa2+ = MNa2EDTA x VNa2EDTA


Karena mol Ca2+ =sama dengan mol Na2EDTA, sehingga terjadi proses disosiasi dan pelepasan ion natrium dan H2Y2- untuk berikatan dengan ion sadah, yaitu ion Ca2+.
Pada percobaan selanjutnya, yaitu menganailisis kesadahan air dengan menggunakan metode yang sma yaitu titrasi, dengan titran yang berupa larutan Na2EDTA terhadap sampel air yang diduga mengandung kesadahan air oleh zat kapur CaCO3 yang memiliki ion Ca2+ sebagai ion penyebab kesadahan pada sampel air. Untuk mencapai titik ekivalen atau saat dimana titran bereaksi dengan sampel air secara sempurna, terjadi prubahan warna indikatorndari merah anggur menjadi biru langit. Indikator pada percobaan kali ini menggunakan indikator yang sama pada saat percobaan sebelumnya, yaitu indikator EBT. Indikator EBT adalah indikator yang mampu membentuk secara kompleks dengan ion Ca2+ dan Mg2+, namun lebih berikatan kuat dengan ion Mg2+ dibandingkan Ca2+. Indikator EBT berwarna biru langit dalam larutan namun membentuk kompleks merah anggur. Hal itu terjadi karena ketika H2Y2- mengalami reaksi dengan ion sadah Ca2+ dan mengkompleks, maka Mg2+ yang berikatan lebih banyak dibandingkan Ca2+ ini mengalami disosiasi dan mengubah warna merah anggur menjadi biru langit dari indikator EBT, dan bila titik ekivalen tercapai, semua ion sadah telah terkomplekskan melalui ion H2Y2-, sehingga untuk membuat indikator EBT bekerja, sampel air harus mengandung Mg2+, meskipun hanya sedikit.

Pada percobaan ini, untuk menetukan kesadahan air yang terjadi, kita telah mendapatkan molaritas Na2EDTA yang bernilai 4,11 x 10-3 M dan volume sampel air 0,02 L. Pada percobaan pertama, volume Na2EDTA dititrasi pada sampel air, dan mencapai titik ekivalen pada saat volumenya 5,2 x 10-3 L. Ketika mencapai titik ekivalen, ion H2Y2- bereaksi dengan ion sadah dan membentuk ion kompleks yang stabil, sehingga didapat reaksi :
Ca2+(aq) + H2Y2-(aq) à CaY2-(aq) + 2H+(aq)
Pada reaksi tersebut, dengan menggunakn prinsip mol, jumlah mol ion sadah dalam smpel air dapat dihitung dengan perbandingan stoikiometri 1 : 1, sehingga dapat disimpulkan :
mol Na2EDTA = mol H2Y2- = mol Ca2+
MH2Y2- x VH2Y2- = MCa2+ x VCa2+


Dengan menggunkan rumus tersebut, kita dapat menghitung konsentrasi pada Ca2+ sesuai dengan hasil pengamatan  yang telah kita lakukan, seperti halnya percobaan pertama yang mendapatkan molaritas sebesar 4,33 x 10-2 M. Pada percobaan kedua, volume saat mencapai titik ekivalen adalah 5 x 10-3 L.  Setelah dilakukan hitungan, molaritas dari Ca2+ adalah 4,33 x 10-3 M.
Dalam hal ini kembali terjadi perbedaan antara masing-masing percobaan dengan menggunakn prosedur atau langkah-langkah yang sama. Perbedaan dalam menentukan konsentrasi yang kita lakukan adalah wajar terutama dalam proses titrasi ini, sebagai contoh :
v Titrasi yang dilakukan secara perlahan-lahan, namun apabila dilakukan dengan cepat akan mengurangi keakuratan data, dapat terjadi kesalahan dalam pengukuran volume Na2EDTA saat terjadi perubahan warna indikator yang berakibat data mulai manjauhi nilai akurat.
v Kekurang telitian dalam cara pengerjaan, baik pengukuran, penimbangan, maupun proses pengambilan larutan menggunakan pipet memiliki pengaruh terhadap volume yang diukur.
v Pembacaan skala buret yang tidak konstan. Dalam hal ini mempengaruhi volume Na2EDTA yang dititrasi serta proses kebocoran buret yang bisa terjadi.
v Pengintepretasian mengenai perubahan warna indikator pada sampel air, karena setiap tetes pada titran mempengaruhi momentum perubahan warna setiap waktunya, sehingga dapat terjadi kekurang telitian dalam melihat warna yang telah berubah menjadi biru dengan pencapaian pada titik ekivalen yang kita cari.

Setelah mendapatkan konsentrasi dari ion Ca2+ dalam sampel air, kemudian kita akan menentukan nilai PPM dari sampel air atau menentukan nilai dari kesadahan pada sampel air yang akan kita tentukan sebarapa besar nilai kesadahannya. PPM memiliki satuan mg CaCO3/L atau dapat kita masukkan ke dalam rumus :


PPM CaCO3 = massa CaCO3 (mg)
Volume sampel air (L)

Dari masing-masing percobaan melalui perhitungan atas rumus diatas, karena konsentrasi pada CaCO3 yang sama dengan konsentrasi Ca2+ melalui perbandingan koefisien memiliki perbedaan setiap percobaan, sehingga kita juga memiliki nilai PPM yang berbeda-beda pada saat melakukan percobaa tersebut. Dalam penentuan massa CaCO3, kita menggunakan rumus :
Molaritas CaCO3 = mol CaCO3
                                      Volume CaCO3
Mol CaCO3 = massa CaCO3
                     Mr CaCO3


Dengan nilai Mr CaCO3 adalah 100 gram/ mol
Pada setiap percobaan, percobaan 1 memiliki massa sebesar 2,14 mg, percobaan 2 memilki massa sebesar 2,26 mg, dan percobaan 3 memilki massa sebesar 2,26 mg. Dalam hal ini, mengakibatkan nilai PPM masing-masing pecobaan berbeda-beda dengan ketentuan nilai masing-masing PPM yaitu :
·         PPM1 CaCO3 adalah 107 mg/l
·         PPM2 CaCO3 adalah 113 mg/l
·         PPM3 CaCO3 adalah 113 mg/l
                           
Sehingga dapat dicari nilai rata-rata dari kesua perhitungan diatas, yaitu :
PPM rata-rata = PPM1 CaCO3 + PPM2 CaCO3
                                                  2

            Dari hasil tersebut, didapatkan nilai PPM rata-rata dengan sampel air yang telah ditentukan sebesar 111 ppm. Kita dapat membandingkan dengan klasifikasi air sadah dari tabel yang ada pada buku panduan praktikum bahwa sampel air ini memilki klasifikasi kesadahan karena nilai dari PPM terakhir adalah 100 - 200 ppm, sehingga sampel air tersebut memiliki nilai kesadahan yang cukup tinggi.






Kesimpulan:
Dari percobaan yang telah kita lakukan, kita dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Nilai dari kesadahan air pada sempel air dipengaruhi kandungan garam yang terlarut dari ion – ion sadah seperti Ca2+, Mg2+, dan Fe2+, serta sedikit dipengaruhi oleh CO2 yang bebas dan jumlah NaCl yang besar sehingga hal ini dapat meningkatkan kesadahan air. Pada percobaan kali ini, larutan Na2 EDTA distandarisasi oleh larutan Ca2+ dalam penentuan konsentrasi.
2.      Indikator warna  eirokom hitam T ( EBT ) merupakan indikator yang sesuai dalam penggunaan pengukuran kesadahan air dikarenakan indikator ini membentuk kompleks dengan ion Ca2+ dan Mg2+, sehingga trayek warna yang digunakan ialah perubahan warna ungu ( merah anggur ) ke biru langit.
3.      Titran Na2 EDTA beraksi dengan Ion Ca2+ dan Mg2+. Larutan berubah menjadi biru yaitu warna asli EBT membentuk kompleks dengan metal yang menjadi titik akhir dari titrasi.
4.      Pengaruh yang ditimbulkan oleh air sadah adalah menyebabkan pengendapan mineral (penyumbatan saluran pipa dan keran) , pemborosan sabun dalam rumah tangga karena ion sadah akan membentuk senyawa yang tidak larut dengan sabun serta membentuk gumpalan scum yang sulit dihilangkan. Selain tu, zat-zat atau bahan kimia yang terkandung di dalam air misalnya Ca, Mg, CaCO3 yang melebihi standart kualitas tidak baik untuk dikonsumsi oleh orang dengan fungsi ginjal yang kurang baik, karena akan menyebabkan pembentukkan batu pada saluran kencing. Kebiasaan minum juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi pembentukan batu saluran kencing. Orang yang banyak mengkonsumsi air dengan kandungan kapur tinggi akan menjadi predisposisi pembentukan batu saluran kencing, maka air yang digunakan manusia tidak boleh lebih dari 200 mg/L CaCO3.
5.      Setelah mengikuti praktikum dengan sempel air yang telah ditentukan, kita mendapat bahwa tingkat kesadahan air tersebut tergolong cukup tinggi dengan nilai PPM rata – rata sebesar 111 mg/L PPM.   


DAFTAR PUSTAKA
Internet:
http://Id.wikipedia.org/wiki/kesadahan_air (Tanggal akses 23 November 2010)
http://chemistrymisaalamsyah.blogspot.com/ (Tanggal akses 23 November 2010)

Referensi Text Book:
Purba, Michael. 2007. Kimia Untuk SMA Kelas XI. Penerbit Erlangga : Jakarta.
Sudarmo, Unggul. 2004. Kimia Untuk SMA Kelas X. Penerbit Erlangga : Jakarta.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment